Skip to main content

Posts

Tak Ingin Terbangun

  Tidakkah kau merasa ada yang hilang dalam dirimu? Baru saja tiga hari berlalu sejak kau meninggalkanku tanpa penjelasan di persimpangan jalan malam itu. Setiap pagi aku terbangun, mengingat setiap percakapan menyenangkan diantara kita. Sejujurnya, ingin kutumpahkan saja semua air mata yang tersisa. Terbayang saat kita memandangi air terjun dari atas bebatuan lembab di Bali bagian utara, saat kita berjalan di pesisir pantai di bawah terik matahari di pinggiran Uluwatu. Mengagumi bagaimana ombak menyapu pasir hingga membentuk pola yang sama dari utara hingga ke selatan. Ataupun saat kita menyaksikan pernyataan cinta seorang kekasih di bawah lembutnya air terjun yang menghujan di Ubud. Aku merindukan percakapan hangat saat kita menyaksikan bintang pertama yang muncul setelah matahari seutuhnya terbenam di sisi selatan Pulau Bali. Aku merindukanmu dan kisah hidupmu, yang pernah kau ceritakan kala segarnya udara pagi menyelimuti ruang diantara kita di Bukit Campuhan. Disaksikan udara ...
Recent posts

Simbiosis

Selaras

Kini.. Kau datang layaknya renjana Kau selamatkan aku dari bejana Kini.. Kaulah melodi yang mendorongku bersenandung dengan lantang Tapi bagaimana kalau,  Aku harus siap jika nanti, Kau beri hatimu seutuhnya pada yang lain Seperti laki-laki yang pernah kutemui Kala hujan sedang gemar gemarnya turun ke bumi  Aku harus siap jika nanti, Bukan lagi suaraku yang menenangkanmu Bukan kehadiranku yang kau tunggu-tunggu Dan bukan senyumanku lagi yang kau rindu Aku pun harus siap jika nanti, Datang masa... Saat aku merindukan sorot matamu yang hangat Merindukan telingamu yang sedia mendengar Dan merindukan antusiasmu di setiap petualangan Rindu, yang tak tersampaikan. Tapi sayang, sejauh apapun kuteguhkan hati... Aku takkan pernah siap. Kuharap, kau tetap disini. Di sisiku. Karena senandung kali ini, adalah senandung yang paling selaras.

Pilu

aku senang memandangi buih ombak.  aku senang menanti matahari terbenam. aku menikmati tiupan angin pantai yang membuatku masuk angin semalaman. aku menyukai keheningan yang merayap ketika matahari terbenam. aku menyukai hangatnya air laut yang membelai punggung kakiku  ketika bintang pertama mulai muncul di langit. aku menikmati dinginnya angin malam, ditemani bayangan tubuhku sendiri di atas pasir yang berkilau tapi sayangnya, kau tidak.  aku mendambakan obrolan hangat di antara meja makan. bertukar rasa, bertukar cerita. aku menginginkan lelucon di tengah hiruk pikuk alam bersenandung, ditemani siulan burung anis merah. aku gemar mengejar halimun bersama hangat tubuhmu di sampingku dan sayangnya, kau tidak. tapi Sayang, aku bertahan.

Ruang

Pada akhirnya, Lebih dari perasaan itu sendiri, ada kebutuhan yang harus dipertimbangkan  Kebutuhan untuk terbuka dalam komunikasi Kebutuhan untuk saling mendengar  Kebutuhan untuk mendengar perasaan lewat kata-kata Kebutuhan akan jaminan bahwa kita takkan saling pergi kemana-mana lagi Di luar perasaan itu sendiri, masih tebal sekali rasanya lapisan yang belum kita kupas Tapi itu tergantung setajam apa pisau yang kau punya untuk mengupas satu per satu  Lapisan yang membentang Agar perasaan yang tersembunyi di dalam, terasa kemurniannya Nyata adanya Dan lagi, punya ruang untuk bertumbuh. 

Munafik

  Malam kemarin kumohon tuntunan dan petunjuk Mohon dimudahkan jika dia yang terbaik Dan minta dijauhkan jika dia bukan orangnya  Malam ini aku termangu Mengingat kembali jumlah hari yang terlewati Sejak bulan mati, yang kini tergantikan purnama  Benarkah ini yang terbaik bagi-Nya? Kupanjatkan doa dengan penuh keyakinan  Tapi kukhianati keyakinanku diam-diam Munafik.  Mulut berucap yakin Namun tak sejalan dengan keinginan hati Begitu tidak tahu diri.  Hingga nanti bulan kembali mati  Semoga tumbuh keikhlasan dalam hati Jika yang terbaik tak sejalan dengan yang kunanti Ah, memang manusia. Tanpa sadar, berkehendak lagi pada-N...

Thoughts

Apa yang harus diceritakan pada orang yang baru kau kenal? Bagaimana memperkenalkan dirimu, melalui potongan-potongan cerita hidupmu? Memangnya cerita hidupmu menarik di mata orang lain? Apakah orang itu bertanya, hingga kau dengan lantang menceritakannya? Bagaimana kalau sebenarnya, bukan itu yang ingin di dengar lawan bicaramu? Bagaimana kalau dari cerita yang kau sampaikan, tersembunyi kekhawatiran... Sebenarnya apa yang dikhawatirkan? Aku tidak mengerti, apa yang belakangan ini membuatku terlalu takut untuk bercerita pada orang lain, tentang diriku. Aku yang selama ini meramaikan obrolan hanya dengan lemparan-lemparan lawakan konyol yang mudah dilupakan. Menghibur untuk sesaat karena semua orang penat, dengan urusannya masing-masing. Membicarakan hal-hal random yang ujung-ujungnya diplesetkan jadi humor. Hey, sekarang sudah 2022. Bukankah saat ini dunia sedang dihebohkan dengan dunia virtual? Artificial intelligence? Perubahan fenomena alam? Politik? Investasi? Tak ...